Relaks Dulu Ya Mam Bag2

Olahraga

Jika saat hamil saja, Mama disarankan untuk berolahraga teratur, apalagi setelah melahirkan. Tak lain untuk menjaga kebugaran tubuh dan ke seimbangan hormon sehingga Mama jadi lebih nyaman dan “tahan banting” menghadapi kesibukan sehari-hari di rumah dalam merawat si buah hati. Sebaiknya, Mama berkonsultasi lebih dahulu kepada dokter mengenai olahra ga yang sesuai dengan kondisi Mama.

Baca juga : Kursus Bahasa Jepang di Jakarta Selatan

Apalagi jika Mama ingin mengembalikan bentuk tubuh seperti semula, pastikan tidak terlalu berat mengingat tubuh Mama belum terlalu siap karena habis melahirkan. Olahraga pernapasan, seperti yoga, sangat baik untuk melepas beban yang mengimpit. Dalam olahraga ini, Mama diminta untuk menenangkan diri, menstabilkan emosi, mengatur napas, juga melakukan gerakan-gerakan yang dapat membuat Mama menjadi lebih tenang dan berpikiran positif terhadap apa yang Mama hadapi dalam hidup. ‘

Me Time

Meski Mama disibukkan dengan aktivitas merawat dan mengasuh bayi, tetapisempatkan untuk memiliki Me Time sehingga Mama bisa melakukan halhal yang Mama senangi. Serahkan bayi kepada Papa, pengasuh, atau orang yang Mama percaya di rumah, kemudian lakukan Me Time. Me Time bisa dilakukan di dalam rumah ataupun di luar rumah.

Di dalam rumah, umpamanya, berendam air hangat di bathtub, duduk di kursi goyang sambil browsing internet, belanja online, menonton film kesukaan di DVD, dan sebagainya. Untuk yang di luar rumah, Mama bisa memanjakan diri di salon/spa, jalan-jalan di mal sekadar cuci mata atau sekalian berbelanja kebutuhan pribadi, bisa juga menikmati makanan kesukaan di restoran langganan, atau menonton film di bioskop, dan lain-lain.

Me Time akan membuat Mama lebih relaks dan sangat baik untuk kenyamanan psikis. Hanya saja, bila hendak melakukan Me Time di luar rumah, pastikan stok ASIP (ASI perah) cukup untuk si buah hati selama ditinggal oleh Mama, pengasuh tahu apa yang harus dilakukannya terhadap bayi selama Mama tak di rumah, kebutuhan bayi yang lain sudah dipersiapkan, dan sebagainya. Nah, selamat bersenang-senang, ya, Ma!

Sumber : https://eduvita.org/

 

Odha Tetap Berhak Punya Keturunan

Dengan program kehamilan yang tepat, anak yang dilahirkan dari Mama dengan HIV/AIDS bisa terbebas dari infeksi virus mematikan ini. Betul, Mama. Sekarang ada treatment dengan HIV/AIDS yang ingin hamil, supaya bayinya tidak khusus bagi Mama tertular, juga pasangannya yang bisa saja bukan penderita HIV/AIDS. “Ya, dengan treatment tersebut, saya bisa mempunyai keturunan yang sehat, normal, dan tidak terinfeksi virus yang saya idap,” ungkap Putri Chery.

Baca juga : Beasiswa d3 ke S1 Luar Negeri

Perempuan dengan HIV/AIDS ini telah memiliki tiga buah ha ti yang sehat (tidak terinfeksi) dari pernikahannya de ngan suami bukan ODHA (orang dengan HIV/ AIDS). Putri menjelaskan, jika seorang pe rempuan de ngan HIV/AIDS ingin hamil, ia harus konsultasi ke dokter dan banyak belajar, lalu mengikuti program PMTCT (Prevention Mother To Child Transmission) alias Pencegahan Penularan Ibu ke Anak (PPIA). “Paling penting, jangan sampai putus mengonsumsi obat ARV atau antiretroviral,” ujar Putri.

Fit Dulu Baru Hamil

Tentunya, saat akan menjalankan program kehamilan PMTCT, ODHA dan pasangannya (baik sesama ODHA atau bukan harus sedang dalam kondisi fit. &ara mengukur kadar fit ini adalah melalui uji cluster Differentiation 4 alias CD4 (tes pengukuran sel darah putih). Dalam kondisi fit berarti kadar virus viral load) HIV tidak terdeteksi dan ini harus dimulai sejak masa prakonsepsi (sebelum hamil) sampai masa persalinan dan mengasuh bayi.

Jika sudah dinyatakan oke alias “sehat”, barulah lanjut ke langkah berikutnya, yaitu me ngecek program pengobatan ARV (Antiretroviral) yang sudah pernah atau sedang dilakukan. Jika belum atau sempat terputus kurang dari enam bulan, maka ODHA harus menjalani program ini terlebih dahulu sebelum melangkah ke tahapan selanjutnya, yai tu pembuahan dan PMTCT. Program pengobatan ARV ini penting, karena ARV bertujuan meng optimalkan kesehatan ODHA dan me ngurangi jumlah virus HIV, serta me lakukan restorasi (perbaikan) fungsi imunologis tubuh agar kembali normal.

TIDUR SAMBIL DUDUK “Sampai saat ini Oliv tidurnya lasak. Awal tidur posisinya masih di bantal, tengah malam pasti posisinya sudah berubah, kadang kakinya di badan saya atau di badan mamanya, atau di kepala kami. Hingga suatu malam saat saya bangun melihat Oliv tidurnya sambil duduk di lantai dan kepala di kasur. Entah kenapa dia seperti itu. Gara-gara itu, hampir setiap malam saya atau mamanya bangun hanya untuk melihat posisi tidur Oliv.”

Sumber : https://ausbildung.co.id/

Berbagi Tip Tangani Anak Jatuh

Betul banget, Ma! Kalau punya anak balita, kita memang harus siap menghadapi risiko si buah hati terjatuh. Apalagi di usia batita, si kecil sedang lincah-lincahnya, seperti yang dialami oleh Shireen Sungkar (23). Buah hatinya, Teuku Adam Al-Fatih (1,3), pernah terjatuh dari tempat tidur, juga terpeleset.

Baca juga : Beasiswa S1 Jerman Full

“Sebenarnya, sih, kejadiannya tidak hanya itu, banyak. Tapi yang agak lumayan, ya, dua itu,” papar pemeran Fitri dalam sinetron “Cinta Fitri” ini. Peristiwa jatuhnya Adam dari tempat tidur terjadi saat ia sudah bisa berguling. Kala itu, usai bermain berdua dengan Adam, Shireen ketiduran. “Saya terbangun karena Adam nangis kenceng. Dicaricari tidak ada. Eh, tak tahunya sudah ada di lantai. Serem, dong, langsung Adam dibawa ke dokter,” kenang Shireen. Nah, saat konsultasi itu, ungkap Shireen, dirinya baru, deh, dapat pengetahuan bagaimana menangani anak jatuh.

“Kalau setelah jatuh, anak menangis, tidak ada darah, tidak ada lebam, masih sadar, itu tandanya anak masih oke. Tapi jika yang terjadi sebaliknya, barulah diwaspadai dan harus mendapat pertolongan medis,” papar istri dari Teuku Wisnu Yusar (30) ini. Setelah kejadian jatuh dari tempat tidur, saat bermain dengan Wisnu, Adam sempat jatuh yang lumayan parah lagi. “Entah ceritanya bagaimana, tiba-tiba Adam kepeleset dan kejedot pintu, langsung ke lantai. Tentu Wisnu dan saya kaget juga takut. Tapi kami sudah lumayan bisa tenang, sebab sudah tahu ilmu menghadapinya,” kata Shireen.

“Setelah diamati tidak apa-apa, saya cek sekujur tubuhnya dengan diraba, dari kepala hingga kaki ternyata tidak apa-apa. Jika memang kenapa-kenapa saat diraba itu, Adam mustinya akan nangis, tapi ini tidak.” Sejak peristiwa jatuh terpeleset yang terjadi beberapa minggu lalu itu, menurut Shireen, Adam jadi takut untuk berjalan sendiri tanpa berpegangan. “Tadinya dia sudah bisa, lo. Sekarang berdiri sendiri saja gak berani kalau tidak pegangan. Ya, inilah PR saya dan Wisnu, mengembalikan kepercayaan diri Adam,” ucap Shireen yang sedang terlibat dalam penggarapan sinteron “Di Bawah Lindungan Abah”.

Oleh karena itu, tambahnya, sekarang ini dirinya dan Wisnu harus lebih banyak meluangkan waktu bersama anak untuk bermain bersama sambil mengajaknya berjalan, memancingnya mau berdiri tanpa berpegangan, dan menatihnya setiap kali Adam mau berjalan. Ya, dengan adanya pendampingan orangtua, si kecil pasti akan kembali pede untuk berjalan sendiri. Yakin, deh! Pengalaman membuat Shireen bisa berbagi satu tip lagi, “Anak bayi-balita yang sudah aktif jangan sekalikali tidur di atas ranjang. Baiknya ranjang di-out dulu. Jadi, kasur saja langsung di lantai. Lebih aman.”

Sumber : https://ausbildung.co.id/

Akibat Dot Kurang Bersih

Jamur yang menyebabkan lidah putih pada bayi di sebut candida monilia sis. Seperti kita ketahui, jamur adalah spora yang sulit mati, bahkan di air mendidih sekalipun. Jadi, meski Mama membuat susu de ngan air hangat, jamur akan tetap hidup. Nah, jamur bisa masuk melalui dot yang tidak ber sih ke mulut bayi. Jamur itu akan menetap di lidah, lalu tertelan bersama susu, masuk ke dalam darah, dan menyebabkan diare.

Baca juga : Tes Toefl Jakarta

Masalahnya, ada seba gian Mama yang tak bisa menyusui bayinya secara langsung dengan berbagai alasan. Bayinya lahir pre matur lalu dirawat di inku bator, misalnya. Umum nya bayi prematur belum memiliki kekuatan untuk mengisap, jadi tidak bisa menyusu langsung. Atau Mama yang terkena HIV dan dinyatakan tidak dapat menyusui bayinya. Menurut Akira, pada kasus-kasus seperti ini, daripada mem beri botol dot, gunakan cup feeder saat memberi susu pada bayi.

“Dengan meng gunakan alat tersebut, ada dua keuntungannya, meng hindari infeksi akibat jamur dan refl eks mengisap pada bayi tidak hilang,” saran Akira. Jamur muncul bisa karena dua hal. Pertama, dot yang kurang bersih; kedua, ada nya gesekan dot (benda asing) dengan lidah bayi. Jamur adalah spora yang sulit mati, bahkan di air mendidih sekalipun.

Tidak Perlu Diberi Air Putih

Nah, terkait dengan bercak putih ini, beberapa Mama menyusui–karena khawatir bayinya terkena jamur— memberi air putih setelah si kecil menyusu ASI. Padahal ini tidak perlu karena sifat ASI sudah alami sehingga tidak berbahaya bagi bayi. “Lidah bayi ASI juga tidak perlu dibersihkan dengan kain. Justru dikhawatirkan kain untuk membersih kan lidah bayi tidak bersih dan berpotensi tumbulnya jamur,” jelas Akira. Bagi Mama yang mem beri bayinya susu dot, lanjut Akira, perhatikan benar ke bersihan dot dan botolnya agar bayi terhindar dari jamur.

Nah, bila pada suatu saat bayi malas minum susu (terutama pada bayi yang minum melalui botol), periksa dalam mulutnya, apakah lidahnya putih? Kalau hanya berupa sisa susu biasa, bercak itu bisa dibersihkan dengan kain kasa steril. Namun kalau tidak hilang setelah dibersihkan, bisa berarti itu jamur yang akarnya sudah menempel pada lidah. Segera konsultasikan pada dokter anak untuk mendapatkan pengobatan yang tepat.

Berbahayakah Bercak Putih Di Lidah Bayi

Biasanya muncul karena jamur akibat kebersihan dot kurang dijaga. Berbahagialah Mama yang menyusui bayinya langsung. Sebab, bayi-bayi yang mendapat ASI lewat payudara sa ngat jarang ter kena jamur yang menye babkan munculnya bercak bercak putih di lidah. “Tapi kalau bayinya menggunakan dot, lalu kebersihan dotnya ini kurang dijaga, maka bisa muncul jamur di lidahnya, berupa bercak putih,” jelas dokter spesialis anak, Akira Prayudijanto. Jamur di lidah muncul akibat stomatitis atau ra dang di rongga mulut. Nah, jamur muncul bisa karena dua hal. Pertama, dot yang kurang bersih; kedua, ada nya gesekan dot (benda asing) dengan lidah bayi. Stomatitis menyebab kan lidah serasa menebal. Karena bayi merasa tidak nyaman, kondisi ini akan mengganggu bayi dalam proses menyusu.

Baca juga : kursus bahasa Jerman di Jakarta

Bisa Juga Karena Antibiotik

Jamur juga bisa muncul akibat peng gunaan antibiotik yang terlalu lama. Misal, pada bayi yang sedang dirawat karena infeksi berat. Pemberian antibiotik memang bisa membunuh kuman. Sayangnya antibiotik tidak dapat memilih kuman jahat atau kuman baik. Semua kuman pun diberantas olehnya sehingga kuman baik yang bertugas membunuh jamur pun mati dan jamur dapat tumbuh subur. Bagaimana pada kasus Mama menyusui yang harus minum antibiotik karena satu dan lain hal? Apakah akan memengaruhi bayinya? Menurut Akira, tidak, karena dosis tersebut tentu sudah sesuai takaran aman. Lagi pula ASI memiliki kemampuan untuk menyaring, se hingga tidak membahayakan bayi.

Amankah Berendam Di Bak Mandi?

Banyak orangtua khawatir, terlalu sering berendam di bak mandi bisa membuat si batita terkena infeksi saluran kemih. Sebenarnya, hingga kini belum ada bukti yang langsung mengarah ke sana. Namun, hal ini juga bukannya mustahil dialami si batita. Jika sabun yang digunakan untuk membuat busa itu terlalu keras, kandungan kimianya bisa mengiritasi uretra si kecil, sehingga ia akan merasa sakit saat pipis. Karena tidak ingin kesakitan, ia akan menahan pipis, sehingga akhirnya bakteri pun berkembang. Jika si batita tergolong rentan terhadap infeksi saluran kemih, tak ada salahnya menjauhkan ia dari bak mandi.

Sumber : pascal-edu.com