Sejarah Jakarta Dalam Dongeng Sang Paman Bag8

Bibliografnya mencengangkan: Pater Heuken membaca 287 buku, 147 artikel dari majalah dan kumpulan karangan, serta 28 katalog dan buku penuntun (guidebooks). Ia juga membeberkan sumber ilustrasi dan peta yang sangat detail. Tak ada kata lain, ini sebuah teks yang ”scholarly”—terpelajar. Satu catatan: beberapa kali penerbit mencantumkan tanda seru di dalam kurung setelah sebuah kata, seperti: ”… mungkin (!)…”, tapi tak menjelaskan kepada pembaca makna dari tanda baca ini. Catatan kecil lainnya, terkadang susunan kalimat yang digunakan tampak nyata bermuasal dari pikiran yang menggunakan bahasa selain bahasa Indonesia.

Dalam Epilog, Heuken mengatakan, ”Waktu merevisi edisi ke-8, kami sedih menyaksikan runtuhnya Gudang Rempahrempah (1709) di belakang Museum Bahari…. Banyak gedung bergaya arsitektur, yang memperlihatkan masa bangunan daerah tertentu di Jakarta, misalnya Kebayoran Baru (sejak 1950), sudah tiada lagi…. Tanpa saksi nyata dari masa lalu, suatu kota bagaikan orang tanpa daya ingat.” Dan inilah pesan paling penting dari buku ini: bahwa buku, foto, dan video tentang masa lampau tak sanggup menggantikan gedung yang berumur ratusan tahun, yang semestinya diizinkan tetap berdiri sebagai pembawa pesan dari masa lampau.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *