Odha Tetap Berhak Punya Keturunan

Dengan program kehamilan yang tepat, anak yang dilahirkan dari Mama dengan HIV/AIDS bisa terbebas dari infeksi virus mematikan ini. Betul, Mama. Sekarang ada treatment dengan HIV/AIDS yang ingin hamil, supaya bayinya tidak khusus bagi Mama tertular, juga pasangannya yang bisa saja bukan penderita HIV/AIDS. “Ya, dengan treatment tersebut, saya bisa mempunyai keturunan yang sehat, normal, dan tidak terinfeksi virus yang saya idap,” ungkap Putri Chery.

Baca juga : Beasiswa d3 ke S1 Luar Negeri

Perempuan dengan HIV/AIDS ini telah memiliki tiga buah ha ti yang sehat (tidak terinfeksi) dari pernikahannya de ngan suami bukan ODHA (orang dengan HIV/ AIDS). Putri menjelaskan, jika seorang pe rempuan de ngan HIV/AIDS ingin hamil, ia harus konsultasi ke dokter dan banyak belajar, lalu mengikuti program PMTCT (Prevention Mother To Child Transmission) alias Pencegahan Penularan Ibu ke Anak (PPIA). “Paling penting, jangan sampai putus mengonsumsi obat ARV atau antiretroviral,” ujar Putri.

Fit Dulu Baru Hamil

Tentunya, saat akan menjalankan program kehamilan PMTCT, ODHA dan pasangannya (baik sesama ODHA atau bukan harus sedang dalam kondisi fit. &ara mengukur kadar fit ini adalah melalui uji cluster Differentiation 4 alias CD4 (tes pengukuran sel darah putih). Dalam kondisi fit berarti kadar virus viral load) HIV tidak terdeteksi dan ini harus dimulai sejak masa prakonsepsi (sebelum hamil) sampai masa persalinan dan mengasuh bayi.

Jika sudah dinyatakan oke alias “sehat”, barulah lanjut ke langkah berikutnya, yaitu me ngecek program pengobatan ARV (Antiretroviral) yang sudah pernah atau sedang dilakukan. Jika belum atau sempat terputus kurang dari enam bulan, maka ODHA harus menjalani program ini terlebih dahulu sebelum melangkah ke tahapan selanjutnya, yai tu pembuahan dan PMTCT. Program pengobatan ARV ini penting, karena ARV bertujuan meng optimalkan kesehatan ODHA dan me ngurangi jumlah virus HIV, serta me lakukan restorasi (perbaikan) fungsi imunologis tubuh agar kembali normal.

TIDUR SAMBIL DUDUK “Sampai saat ini Oliv tidurnya lasak. Awal tidur posisinya masih di bantal, tengah malam pasti posisinya sudah berubah, kadang kakinya di badan saya atau di badan mamanya, atau di kepala kami. Hingga suatu malam saat saya bangun melihat Oliv tidurnya sambil duduk di lantai dan kepala di kasur. Entah kenapa dia seperti itu. Gara-gara itu, hampir setiap malam saya atau mamanya bangun hanya untuk melihat posisi tidur Oliv.”

Sumber : https://ausbildung.co.id/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *